YOGYAKARTA, DUA HARI TAK AKAN CUKUP

Keep calm, it’s girls weekend!

And I really really really! miss Yogyakarta~

Minggu lalu, saya dan lima orang teman perempuan saya pergi ke Solo untuk menghadiri acara pernikahan teman kami. Tak mau melewatkan kesempatan pergi bersama yang super langka, kamipun memutuskan mampir ke Yogyakarta.

Perjalanan ke Yogyakarta kami mulai dari Stasiun Solo Balapan. Dengan tiket kereta Prameks seharga Rp8.000,- kami berenam menempuh perjalanan ke Yogyakarta. Setiba di Stasiun Yogyakarta atau dulu biasa disebut Stadiun Tugu, kami sudah dijemput oleh Pak Ananto, supir kami selama di Yogyakarta. Sungguh, dua hari bukanlah waktu yang cukup untuk menjelajah Yogyakarta yang sangat saya rindukan ini, tapi saya tetap senang bisa mengunjungi tempat-tempat baru yang indah dan menyenangkan. Mana saja?

  1. Situs Ratu Boko

Ini adalah Kali kedua saya berkunjung ke Situs Ratu Boko. Pertama kali, saya ke sini tahun 2013, tidak sengaja, karena waktu itu dalam rangka pekerjaan. Situs purbakala Ratu Boko adalah komplek pemukiman raja pada masa kerajaan Medang (Mataram Hindu), yang pertama kali ditemukan oleh van Boeckholtz pada tahun 1790. Saya sempat bingung saat googling dan banyak menemukan penyebutan tempat ini adalah Candi Ratu Boko, karena menurut saya tempat ini adalah istana, bukan candi atau tempat pelaksanaan kegiatan religius seperti Candi Borobudur atau Prambanan. Dan seperti layaknya rumah, ada gerbang utama, teras untuk ruang tunggu, pendopo, istana putri, hingga kolam pemandian. Sayangnya kami datang ke situs Ratu Boko di pembuka hari, jadi tidak bisa lihat sunset. Padahal sunset di sini cihuy punya. Untuk tahu lebih banyak tentang situs Ratu Boko, kamu bisa googling atau datang langsung ke sini. Harga tiket masuknya pun tidak mahal, hanya Rp27.000,- per orang.

  1. Museum Ullen Sentalu

Saya suka museum. Museum selalu punya cerita momentum, lucu, menyentuh, misteri, dan mencekam dari sebuah sejarah. Museum membuat saya lebih sadar betapa kayanya Indonesia, #kemuseumyuk. Dan biar saya ingat, hmmmm… rasanya ini adalah museum Indonesia terbaik yang pernah saya kunjungi sejauh ini. Bukan hanya karena sejarah yang terkandung di dalamnya, tapi juga cerita, filosofi, detil, dan orang-orang di dalamnya. Untuk masuk museum ini, kami hanya perlu membayar tiket masuk Rp27.000,- per orang, dan saat masuk, kami didampingi oleh pemandu yang sungguh cakap dan menguasai materi. Oh ya, karena alasan tertentu, kami tidak boleh berfoto atau mengambil foto apapun selama kunjungan. Saya lupa bertanya alasan spesifiknya (mungkin untuk alasan keamanan dan pelestariaan koleksi), tapi saya menghargai aturan itu (saya harap kamu juga). Dan kalau kamu mau tahu, sungguh saya jatuh cinta pada Museum Ullen Sentalu, Yogyakarta ini. Suatu hari di lain postingan, saya akan bercerita lebih detil tentang museum ini.

  1. Alun-alun Kulon Yogyakarta

Menutup hari pertama di Yogyakarta, kami mampir ke Alun-alun Kulon Yogyakarta. Kulon dalam bahasa Jawa artinya Barat, yap, masyarakat Jaaa kerap menunjuk arah dengan sebutan arah mata angin. Ini sebenarnya tidak ada dalam daftar destinasi wisata kami, a random pick I must say. Tak ada tujuan lagi malam itu, jadi saya dengan spontan melempar ide untuk main odong-odong ala Yogyakarta. Untuk bisa mengendarai odong-odong ini, kami membayar Rp30.000,- untuk satu kali putaran Alun-alun. Hahaha kekanakan ya? Tapi serius deh, menyenangkan dan bakalan saya ulang lagi di lain waktu. Another reason, I finally can drive a car! *wink*

  1. Puncak Kebun Buah Mangunan

To be honest, tempat yang terkenal juga dengan sebutan Negeri di Atas Awan ini tidak terlalu berkesan buat saya. Ya standar dataran tinggi yang pemandangan indah buat foto aja. Ada 2 hal yang mungkin membuat tempat ini jadi biasa bagi saya, pertama kami datang terlalu siang (jam 6), kedua hujan. Nah, justru yang berkesan bukan pemandangannya tapi kebersamaan saya dengan teman-teman saya di warung indomie di area wisata ini. Hujan ‘memaksa’ kami untuk mampir di warung itu dan pesan mie rebus (halah, emang doyan!). Obrolan sampah cewek-cewek jarang ketemu ini somehow bikin ngakak terus. Dari ngomongin bahan herbal dalam Wedang Uwuh pesanan saya, sampai ngomentarin pasangan pengantin yang mau prewedding. Random deh. Mau tau apa saja yang kami bahas? Mendingan nggak usah. Sampah.

  1. Hutan Pinus Imogiri

Apalah?! Tempat ini bagus banget! Mengingatkan saya pada hutan pinus Gunung Pancar dan (entah kenapa langsung ingat) hutan bambu Sagano di Jepang juga. Mungkin kami nggak terlalu beruntung karena sejak pagi lami selalu dapat jatah hujan, tapi hey lihat deh, hujan bikin hutan ini tampak lebih mistis, misterius dan ajaib. That’s why I always love rain. Lihat kabut ini, lihat sepi yang dibawa hujan. Bikin suasana jadi terasa semakin dalam, khidmat, dan syahdu. Hazeeek. Lebay ya saya? Udah biasa dibilang gitu. Hihi. By the way, hutan pinus ini gratis, cuma bayar parkir mobil Rp10.000,- (syalalala kan?). Saran saya sih, kalau kamu ke sini, emang pas banget foto-foto tapi coba deh luangin 15 menit tanpa gadget untuk menikmati suasana. It’s worth it.

  1. Gumuk Pasir Parangkusumo

Dari Jakarta Raya, cita-cita besar saya adalah main sandboarding di Gumuk Pasir Parangkusumo. Sungguh, saya sampai bilang sama teman-teman saya, terserah destinasi yang lain tapi Gumuk Pasir harus kita datangi! Sayangnya, segala rencana manusia hanyalah wacana jika tanpa kata iya dari Sang Pencipta. Hahaha! Hujan bok!! Udah gitu tempat seluncurnya dipake buat syuting *joget india* Padahal pengen pamer keahlian nyusruk lho, gagal deh. Yaudahlah ya. Eh btw, denger-denger pasir gumuk cuma ada dua ya di dunia, satu di Meksiko, satu di Yogyakarta. Wah, aren’t we Indonesian so lucky?! Makanya penasaran banget mau main perosotan papan ala-ala pro. Huks. Eh tapi nggak apa-apa. Kegagalan ini sungguh alasan bagus untuk saya kembali ke sini. Tahun depan mungkin, fufufu..

  1. Pantai Pok Tunggal

Lumayan jauh dari Pasir Gumuk, sekitar 2 jam. Sepanjang jalan menuju pantai ini, kami melewati persawahan dan saat akan sampai di ‘komplek’ pantai, kami dikenai biaya masuk Rp15.000,-per orang. Di ‘komplek’ pantai ini, nggak hanya ada Pok Tunggal, tapi juga Baron, Ndrini, dan masih banyak lagi. Googling deh. Hihi. Sayangnyaaa pantai jadi destinasi wisata terakhir kami, jadi kami pun tidak terlalu mengekplorasi pantai pasir putih ini. Kami cuma duduk-duduk sebentar di tepian pantai, foto-foto, dan menikmati kelapa muda di warung tepi pantai. Wah memang seru kalau kita main ke pantai pas nggak musim liburan. Feels like your private beach, man! Anyway, saya senang karena tidak kesulitan saat mencari tempat sholat. Ternyata penduduk di sana, selain menyewakan toilet umum, juga menyediakan tempat sholat. Meski seadanya, tapi hey, it helps! 🙂

Jadi di atas adalah sebagian kecil dari keindahan Yogyakarta yang saya singgahi. Semoga saya masuh punya kesempatan mengeksplorasi kota ini dan semoga tulisan ini bisa bermanfaat serta menginspirasi teman-teman.

xo,

Resha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s