Explore Yogyakarta (Lagi)

Kotamu hadirkan senyummu abadi. Ijinkanlah aku untuk selalu pulang lagi. Bila hati mulai sepi tanpa terobati ..

-KLA Project-

 

 

Saya jatuh cinta pada Bandung dan Bali, tapi nggak akan mengalahkan rasa cinta saya pada Yogyakarta. Seperti yang saya bilang, saya akan selalu kembali ke kota ini, selalu, dan saya kembali.

Perjalanan ke Yogyakarta kali ini bukan bersama teman-teman, tapi sama nyokap dan adik. Bisa dibilang, ini adalah random trip, karena niat utama saya adalah nganter nyokap untuk reunian sama teman-teman SMP nya di Klaten dan saya nggak membuat acuan perjalanan sama sekali. Random, semua random, kecuali tiket kereta api yang harus saya pesan satu bulan sebelum keberangkatan. Saking randomnya, perjalanan ini jadi salah satu yang paling berkesan buat saya, karena kami banyak salah jalannya. Let me start my story..

HOTEL
Saya ingin memulai dari hotel. Nggak gampang ya dari hotel kalau long weekend, beruntung saya masih dapat satu kamar di Woodpecker Pavilion via booking.com. Asli, kredibilitas sebagai anak generasi digital bakal luntur kalau gak bisa cari hotel via online. Blah blah. Setelah 12 jam perjalanan Stasiun Gambir- Stasiun Lempuyangan, pagi buta itu kami nggak langsung menuju hotel karena belum bisa check in. Kami baru masuk hotel jam 11.00 wib. A bit zonk moment sih waktu sampai hotel. Petugas resepsionis bilang kami sudah bisa masuk kamar, tapi ternyata pas sampai kamar, OMG, belum diberesin, banyak puntung rokok, and of course bau rokok. Eww.. Trs sengaja deh, saya pantengin room service-nya buat benahin. Tapi errr, itu room service-nya nggak rapi sama sekali. Maksud saya, gimana saya bisa mempercayakan orang merapikan kamar saya kalau penampilannya aja berantakan?? Like, you say sorry but you a liar *lah* Like, you’re a dentist but you punya gigi ompong. Ya kan gimana ya.. Terus lantai kotor, terus belum dipel juga, terus.. ah ya sudahlah, mungkin saya terlalu capek hari itu. Skip.

Btw, nggak aci kalo saya komplain tapi nggak melihat kelebihan hotel ini. Lokasi yang strategis san petugas yang ramah, itu poin plus dari saya. Restorannya juga asik interiornya, walaupun pelayanannya, sorry to say, lelet sih. Pesen es teh manis dan jus jambu aja 20 menit, pake acara salah pula. Selanjutnya, saya cuma pesan dan makan di kamar aja, anehnya.pelayanan ini lebih cepat. Eh tapi nasi gorengnya enak!!

RENTAL MOBIL
Sejujurnya, ini pertama kalinya saya mengurus perjalanan secara penuh, dari kereta, hotel, sampai rental mobil. Had no idea where to search for good car rental company, but Google and Instagram helped me a lot. Akhirnya saya menjatuhkan pilihan ke Malsa Trans. Awalnya sempet bete sama tempat rental ini karena mereka jawabnya lama-lama jutek, mungkin karena saya banyak nanya. Yah namanya juga survey, tapi ternyata oke kok. Tepat waktu, sesuai permintaan, dan supirnya tau jalan. Penting banget itu! Harga mobil? Affordable pastinya, Rp300.000,- /24 jam, lepas kunci atau Rp350.000,-/12 jam dengan supir (harga long weekend). Hmm.. saya bawa supir pribadi :p

WISATA YOGYA TANPA ARAH
Megahnya Ratu Boko
Sebelumnya, saya sudah beberapa kali ke Candi Ratu Boko, di tahun 2013 dan awal 2017 lalu. Ini adalah kali ketiga. Kunjungan kali ini, saya sebenarnya ngincer sunset-nya. Sayang, hari yang terik itu mendadak mendung, jadi yah, kami nggak berhasil hunting foto sunset. Sebagai gantinya, kami dapat pemandangan yang luar biasa cantik karena ternyata hari itu bertepatan dengan gelaran acara Bank Mandiri. Lampu-lampu tembak yang dipasang bikin Candi Ratu Boko makin kelihatan megah.

 

 

Abhayagiri, Overrated
Penasaran dengan postingan orang-orang di Abhayagiri, kami pun mampir ke restoran ini untuk makan siang, makan sore sih tepatnya. Berada di dataran tinggi yang menghadap Candi Prambanan dan Gunung Merapi, wow Abhayagiri memang tempat kekinian yang bagus banget buat foto-foto. In fact, I noticed most of people came to feed their Instagram, which I lowkey too hihi. Kalau di siang hari kita bisa lihat pemandangan magical, malam harinya pun tak kalah cantik karena lampu-lampu.

Itu kalau kita bicara tentang pemandangannya. Lain lagi kalau tentang makanannya. It was overrated to me. Saya pesan Chicken Cordon Bleu, dan nyokap pesan Empal Gentong, and none of it felt right to me, personally. Ayamnya keasinan, empalnya hambar. Dengan harga yang hampir menyentuh Rp100.000,- per porsi, you surely will not get recommendation from me. Or maybe I should probably go back there just to check if I was just not lucky this time. Oh well..

IMG_20170527_231503_435

Bukit Teletubies, Cukup Sekali
NAH INI! Kalau ada tempat yang harus nggak saya rekomendasikan secara pasti, inilah tempatnya. Subhanallah treknya bikin gila! Ini adalah salah satu destinasi yang paling random dan paling menghabiskan energi. Oke, jadi gini, kalau kamu pernah dengar Teletubies Dome di Yogyakarta, maka Bukit Teletubies ini adalah tempat tinggi untuk melihat Teletubies Dome dari atas, bird view so it looks prettier, gue pikir. Ternyata ya Tuhan, treknya serem banget. Itu jalanan satu arah, nanjak banget, nggak ada pembatas jalan, cuma cukup buat satu mobil (nggak bisa putbal, man!), kanan-kiri kalo gak hutan bambu ya…. Ya pokoknya kalo slip, bye lah. None of us were smiling or laughing, I was a super duper nervous trip, I can’t breath to be honest. I feel so guilty that I asked my sister to bring us there. Nggak bakal lagi! Nangis darah sih kalo mogok di sini. Gengs, saran saya sih, kamu jangan ke sini naik mobil, beneran deh. Naik motor aja lebih tentram deh hati. Make sure, mesin oke, bensin ada.

Pantai Siung dkk di Penghujung Hari
Nyokap reuni, kami pun menuju kawasan pantai di Gunung Kidul. Akibat sok ide belok ke Bukit Teletubies sebelumnya, kami jadi terlalu sore sampai di kawasan tiga pantai ini. Kami baru sampai di pantai kedua, Pantai….., jam 4 sore, dan pantai ketiga, Pantai Siung jam 5 sore (kami nggak ke kawasan pertama yang merupakan kawasan air terjun). Dua pantai tersebut juga kami pilih secara random dalam perjalanan, karena kami ingin pantai yang belum pernah kami kunjungi (kami pernah ke Baron, Ndrini, dan Pok Tunggal).

Rupanya kami salah, sejak awal harusnya kami lebih fokus ke Pantai Siung karena medan pantai itu lebih ramah dan cocok untuk duduk leyeh-leyeh. Beda dengan Pantai …. yang ternyata memang diperuntukkan untuk snorkeling. Dengan medan turun Pantai …. yang sedikit lebih sulit dan bibir pantai yang jauh lebih sempit, tentu saja, untuk keluarga dengan anak kecil atau orangtua, saya lebih merekomendasikan Pantai Siung. Jangan khawatir dengan yang masuk, murah kok, nggak lebih dari Rp10.000,- per orang.

Ullen Sentalu Saat Syahdu
Saya juga sudah pernah ke sini, dan saya waktu itu berjanji untuk datang lagi ke Ullen Sentalu.Tiket masuk museum ini Rp30.000,- untuk wisatawan domestik dan Rp50.000,- untuk mancanegara. Setiap rombongan akan mendapatkan sato orang tour guide seperti Mbak Bella yang fasih menjelaskan sejarah di dalam museum. Sesi kunjungan adalah 60 menit dan ada beberapa aturan yang diterapkan seperti kami nggak diperbolehkan mangambil gambar di dalam museum, nggak boleh makan dan minum selama kunjungan museum, dan nggak boleh memegang lukisan atau patung. No wonder karena koleksi lukisan, patung, kain dan gamelan di dalam museum tentu harus sangat terjaga.

Tempat ini bagus banget, sayangnya hari itu hujan, jadi saya nggak bisa ajak keluarga saya berfoto di spot foto khusus yang disediakan Ullen Sentalu dan explore spot di sekitar area museum. Yogya, saat itu memang sedang sering hujan. Syahdu.

 

 

 

Lava Tour, Paling Seru!
Finaly, we brought our mom here. Doi kepengen banget ke wisata Gunung Merapi. Meskipun nggak tau jalan dan hanya mengandalkan Google Map, akhirnya kami sampai di lawasan wisata Gunung Merapi, walaupun sering diarahin lewat pedesaan sih, yang bikin perasaan campur aduk antara khawatir dan excited. Untuk menikmati tempat wisata itu, kami harus menyewa jeep, seharga Rp450.000,- untuk sebuah paket middle trip.

Di tempat kami menyewa, ada 3 jenis trip, yaitu short, middle, dan long trip. Short tanpa kunjungan ke rumah kuncen Mbah Marijan, Middle dg kunjungan ke rumah kuncen dan water adventure (yap, bawa baju ganti is a must! Jangan kaya kami,karena terlalu random, kami nggak bawa baju ganti. Basah kuyup bikin kami harus beli baju baru hehe), sedangkan long trip meliputi wisata sunrise yang harus berangkat dari subuh. Menurut Mas Firman, driver Jeep kami, harga kami termasuk agak mahal karena kami masih agak jauh dari kawasan wisata dan harus melewati banyak pos retribusi masyarakat sekitar. Well oke.. Meski cuaca sempat sangat mendung, alhamdulillah nggak hujan. No more words, point is it was soooo fun and we had a great time. These are our memories..

Malioboro, Love!
Ketika mengunjungi Malioboro, itu adalah pagi terakhir kami di Yogyakarta. Ah, kurang lama rasanya. Kami mampir ke Malioboro untuk sarapan, dan terdamparlah kami di angkringan sepanjang pedestrian. Bukan angkringan kumuh, tapi memang diizinkan oleh pemerintah daerah setempat. Oh my goodness, Sego Pecel never failed me. Meski harganya tidak murah (harga seperti di Jakarta), tapi enaaakk!! Worth every rupiah that I spent. This what I called.. festive food 🙂

Museum Affandi, a Checked Wishlist
Saya ingat, ada pohon besar di depan museum ini yang kerap menarik perhatian saya sejak kecil. Bangunan uniknya pun selalu menyita perhatian saya setiap kali kami menuju Malioboro. Sejak dulu, saya bercita-cita datang ke Museum Affandi, dan di sinilah kami siang itu. Senangnya bukan main. Kalau kami penikmat lukisan seperti saya, tempat ini harus banget kamu kunjungi, guys. Tikey masuknya pun murah, cuma Rp10.000,- per orang. Hmm.. rasanya saya akan membuat pos khusus untuk Museum Affandi. Jadi, tunggu ya. Sementara, ini beberapa keindahan museum yang saya abadikan.

Tradisi kuliner
Selain sarapan pecel di angkringan Malioboro yang memuaskan, selama di Yogyakarta, tentu kami nggak melewatkan makanan favorit keluarga, soto. Mencoba beberapa kedai soto, favorit kami selama perjalanan ini adalah Soto Mbok Giyem. So delicious and affordable, I could die! Empat porsi soto Mbok Giyem dengan tiga minuman, sate dan banyak gorengan kami cuma habis Rp80.000,- ulalaa. Dan sebelum pulang, kami juga menyempatkan makan di House of Raminten. Meski tempatnya agak gelap dan Jawa banget, tapi rasa makanannya enak. Terutama ikan bakarnya, itu enak banget! Harga? Affordable kok, kisaran Rp15.000 – Rp45.000,-

Selain itu, kami juga mencoba beberapa jajanan daerah setempat seperti Jenang Bu Gesti di Pasar Lempuyangan yang super laris, Gudeng Kendil Wijilan di sekitar kawasan Kraton, Steak Lapis Kusuma Sari Solo, Kupat Tahu Magelang di Seturan, dan Lontong Sayur Uda Asdi.

So that’s it! Yogyakarta selalu menyenangkan. Dan rasa kangen saya sudah terobati.

 

 

This slideshow requires JavaScript.

XO,
Resha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s